suara pinggiran


RUMAH BARU
July 25, 2008, 11:42 am
Filed under: Anak-anak, curhat

Syukur Alhamdulillah..akhirnya rumah baru kami sudah diserahterimakan. Sebenarnya kunci sudah diserahkan Rabu tanggal 23 Juli kemarin, tapi waktu itu belum ada penyerahan resmi dari pihak Pengembang. Akhirnya, padi ini tadi, sekitar jam 10.45 WIB, rumah tersebut secara resmi telah diserahterimakan kepada kami.

Istri datang dari Boyolali bersama dengan Ibu, Bapak dan anak-anak, Davin dan Ibil. berangkat dari Boyolali sekitar jam 08.00 WIB. Naik bus patas Apolo. Turun di RS Elisabeth, lalu naik taksi ke bengkel, Zoom Computer di Gergaji. Setelah istirahat sebentar dan anak-anak minum susu, kami berangkat ke Graha Wahid. Berhubung cuaca cukup panas, akhirnya naik taksi. Sepanjang perjalanan, anak-anak ‘diperkenalkan’ dengan lingkungan yang akan menjadi bagian hidup mereka dalam beberapa waktu kedepan.

Sampai di Graha Wahid, kami langsung menuju ke Kantor Pemasaran. Setelah mengisi beberapa blanko untuk keanggotaan Club House, serah terima bangunan rumah dan lain-lain, kami menerima stiker untuk kendaraan, supaya masuk-keluar kompleks tidak perlu direpotkan urusan ke bagian Pengamanan Dalam. Kami diberi sovenir berupa tempat sampah besar, lampu taman, payung dan seperangkat mug, teko teh dan asbak. Setelah anak-anak cukup puas berkeliling di Club House, kami menuju ke lokasi rumah. (sebenarnya sih Davin masih geger, pingin naik patung kuda di depan Club House dan ngajak renang).

Rumah masih dalam keadaan tidak terkunci. Kami masuk. Kepada anak-anak, kami menerangkan bahwa ini adalah rumah mereka. Bapak sudah pernah kesini, Rabu kemarin. Waktu itu Bapak mampir setelah kontrol mata ke dr. Siti Sundari, Sp.M. di RS William Booth. Waktu itu Bapak sudah menyatakan bahwa Beliau puas dengan pilihan kami. Beliau marem dan menyatakan bahwa kami tidak salah pilih walau dengan harga yang cukup tinggi dari perkiraan harga rumah yang kami rencanakan. Tinggal bagaimana kami pinter-pinter ngatur keuangan, supaya tidak kedodoran saat harus membayar cicilan KPR ke Bank Permata.

Alhamdulillah, Ibu juga puas dengan kondisi rumah. Tidak lupa Beliau berdua juga mendoakan semoga semua berjalan lancar. Sehingga kami dapat memenuhi semua kewajiban; kepada keluarga, ke anak-anak, ke Bank Permata, selaku pemberi KPR dan ke lingkungan.

Davin dan Ibil terlihat cukup antusias. Berulang-ulang mereka mengucapkan ‘omah Ibing.., omah Dapin..’ sambil berlari-lari keliling rumah. Davin lalu minta tatur, mau pipis katanya. Sebenarnya dia sudah pake pampers celana. Tapi hampir selalu kalo mau pipis, pasti minta dilepas dan minta tatur atau ndodok sendiri. Kadang aku tipu dengan men-tatur, tapi tanpa melepas celana. Akhirnya Davin aku tatur, setelah pipis, dia malah buang air besar sambil wajahnya senyam-senyum nakal. Semua yang ada di situ bingung, soalnya air PAM belum dialirkan masuk ke rumah. harus dikemanakan ‘limbahnya’ Davin dan bagaimana cawik-nya. Akhirnya Mbah Kakung pinjam ember ke tukang yang sedang bekerja di tentangga dan minta air ke tetangga yang kran depan rumahnya sudah diaktifkan. Davin akhirnya disuruh nge-ngek sendiri, sambil jongkok. Akhirnya ‘limbah’nya davin kupunguti dan kumasukkan ke plastik pembungkus kloset. Ibil yang duduk di tempat cuci piring mbedo dengan ngomok ‘hek..hek..hi…’, dengan ekspresi jijik. eh.. Davin juga malah ikut-ikutan mbedo sambil cengar-cengir nakal. Setelah selesai Istri bertugas nyawiki, tapi Davin malah minta di-cawiki Bapaknya. Akhirnya aku juga yang membereskan semuanya. Setelah selesai kami semua kembali masuk taksi dan pulang ke Zoom, Gergaji.

Sampai di Zoom, aku, Bapak dan teman-teman siap-siap buat Shalat Jum’at. Sementara Ibu, Istri dan anak-anak tetep di Zoom. Setelah Jum’atan, kami semua ribut ngurusi Davin dan Ibil yang mondar-mandir di bengkel. memegang apa saja, memainkan apa saja dan Ibil selalu menanyakan hal-hal atau barang yang dia belum tahu. ‘apa ini…?’, ‘apa itu…?’ sering sekali keluar dari mulutnya. Sementara Davin lebih tepat kalo disebut pembuat keonaran. Dia memencet keyboard hampir semua PC dan notebook yang hidup, sampai benar-benar kacau. ketemu ballpoint atau pensil langsung dipakai buat mencorat-coret apa saja, dinding, meja, case CPU, layar monitor, buku manual dll.

Mereka berdua sangat tergila-gila dengan pesawat telepon. setelah menemukan pesawat telepon Wifone, hadiah dari Bank Permata, langsung diangkat gagangnya, pencat-pencet tombol dan ribut ‘halo…’, ‘halo…’. Karena pesawat cuma ada satu, akhirnya mereka berebut, saling tidak mau diganggu. Akhirnya Uti-nya datang dan memutuskan untuk memakai Wifone tersebut untuk menelpon Mas Didik. ‘Uti nelpon Pakdhe ya..’ ujar beliau berulang-ulang, supaya Davin dan Ibil tidak berebut telepon lagi.

Setelah cukup istirahat, akhirnya rombongan pulang ke boyolali. berangkat dari Zoom sekitar jam 14.00 an. Sebelumnya aku harus menjelaskan kepada anak-anak, bahwa mereka akan pulang ke Boyolali duluan bersama Ibu, Uti dan Kakung. Sementara Bapak mau bekerja dulu dan besok Bapak pulang ke Boyolali. Ibil dijelaskan dua kali baru bilang ‘he-eh’. sementara Davin tidak mau menjawab tapi malah terus ngajak bermain. Setelah takpaksa duduk pangku dan dijelaskan dua-tiga kali, baru davin mau menjawab Iya. Dan mereka mau masuk ke dalam taksi. Aku senang, anak-anak bisa berlaku ‘konsisten’ dalam skala mereka. Sebelum mengiyakan penjelasanku, baik Davin maupun Ibil tidak mau masuk taksi dan memintaku untuk ikut pulang. Tapi setelah mengiyakan, mereka tidak merengek memintaku untuk ikut, tapi cuma melambaikan tangan tanpa senyum dan ucapan ‘da..da…’.