Syukur Alhamdulillah..akhirnya rumah baru kami sudah diserahterimakan. Sebenarnya kunci sudah diserahkan Rabu tanggal 23 Juli kemarin, tapi waktu itu belum ada penyerahan resmi dari pihak Pengembang. Akhirnya, padi ini tadi, sekitar jam 10.45 WIB, rumah tersebut secara resmi telah diserahterimakan kepada kami.
Istri datang dari Boyolali bersama dengan Ibu, Bapak dan anak-anak, Davin dan Ibil. berangkat dari Boyolali sekitar jam 08.00 WIB. Naik bus patas Apolo. Turun di RS Elisabeth, lalu naik taksi ke bengkel, Zoom Computer di Gergaji. Setelah istirahat sebentar dan anak-anak minum susu, kami berangkat ke Graha Wahid. Berhubung cuaca cukup panas, akhirnya naik taksi. Sepanjang perjalanan, anak-anak ‘diperkenalkan’ dengan lingkungan yang akan menjadi bagian hidup mereka dalam beberapa waktu kedepan.
Sampai di Graha Wahid, kami langsung menuju ke Kantor Pemasaran. Setelah mengisi beberapa blanko untuk keanggotaan Club House, serah terima bangunan rumah dan lain-lain, kami menerima stiker untuk kendaraan, supaya masuk-keluar kompleks tidak perlu direpotkan urusan ke bagian Pengamanan Dalam. Kami diberi sovenir berupa tempat sampah besar, lampu taman, payung dan seperangkat mug, teko teh dan asbak. Setelah anak-anak cukup puas berkeliling di Club House, kami menuju ke lokasi rumah. (sebenarnya sih Davin masih geger, pingin naik patung kuda di depan Club House dan ngajak renang).
Rumah masih dalam keadaan tidak terkunci. Kami masuk. Kepada anak-anak, kami menerangkan bahwa ini adalah rumah mereka. Bapak sudah pernah kesini, Rabu kemarin. Waktu itu Bapak mampir setelah kontrol mata ke dr. Siti Sundari, Sp.M. di RS William Booth. Waktu itu Bapak sudah menyatakan bahwa Beliau puas dengan pilihan kami. Beliau marem dan menyatakan bahwa kami tidak salah pilih walau dengan harga yang cukup tinggi dari perkiraan harga rumah yang kami rencanakan. Tinggal bagaimana kami pinter-pinter ngatur keuangan, supaya tidak kedodoran saat harus membayar cicilan KPR ke Bank Permata.
Alhamdulillah, Ibu juga puas dengan kondisi rumah. Tidak lupa Beliau berdua juga mendoakan semoga semua berjalan lancar. Sehingga kami dapat memenuhi semua kewajiban; kepada keluarga, ke anak-anak, ke Bank Permata, selaku pemberi KPR dan ke lingkungan.
Davin dan Ibil terlihat cukup antusias. Berulang-ulang mereka mengucapkan ‘omah Ibing.., omah Dapin..’ sambil berlari-lari keliling rumah. Davin lalu minta tatur, mau pipis katanya. Sebenarnya dia sudah pake pampers celana. Tapi hampir selalu kalo mau pipis, pasti minta dilepas dan minta tatur atau ndodok sendiri. Kadang aku tipu dengan men-tatur, tapi tanpa melepas celana. Akhirnya Davin aku tatur, setelah pipis, dia malah buang air besar sambil wajahnya senyam-senyum nakal. Semua yang ada di situ bingung, soalnya air PAM belum dialirkan masuk ke rumah. harus dikemanakan ‘limbahnya’ Davin dan bagaimana cawik-nya. Akhirnya Mbah Kakung pinjam ember ke tukang yang sedang bekerja di tentangga dan minta air ke tetangga yang kran depan rumahnya sudah diaktifkan. Davin akhirnya disuruh nge-ngek sendiri, sambil jongkok. Akhirnya ‘limbah’nya davin kupunguti dan kumasukkan ke plastik pembungkus kloset. Ibil yang duduk di tempat cuci piring mbedo dengan ngomok ‘hek..hek..hi…’, dengan ekspresi jijik. eh.. Davin juga malah ikut-ikutan mbedo sambil cengar-cengir nakal. Setelah selesai Istri bertugas nyawiki, tapi Davin malah minta di-cawiki Bapaknya. Akhirnya aku juga yang membereskan semuanya. Setelah selesai kami semua kembali masuk taksi dan pulang ke Zoom, Gergaji.
Sampai di Zoom, aku, Bapak dan teman-teman siap-siap buat Shalat Jum’at. Sementara Ibu, Istri dan anak-anak tetep di Zoom. Setelah Jum’atan, kami semua ribut ngurusi Davin dan Ibil yang mondar-mandir di bengkel. memegang apa saja, memainkan apa saja dan Ibil selalu menanyakan hal-hal atau barang yang dia belum tahu. ‘apa ini…?’, ‘apa itu…?’ sering sekali keluar dari mulutnya. Sementara Davin lebih tepat kalo disebut pembuat keonaran. Dia memencet keyboard hampir semua PC dan notebook yang hidup, sampai benar-benar kacau. ketemu ballpoint atau pensil langsung dipakai buat mencorat-coret apa saja, dinding, meja, case CPU, layar monitor, buku manual dll.
Mereka berdua sangat tergila-gila dengan pesawat telepon. setelah menemukan pesawat telepon Wifone, hadiah dari Bank Permata, langsung diangkat gagangnya, pencat-pencet tombol dan ribut ‘halo…’, ‘halo…’. Karena pesawat cuma ada satu, akhirnya mereka berebut, saling tidak mau diganggu. Akhirnya Uti-nya datang dan memutuskan untuk memakai Wifone tersebut untuk menelpon Mas Didik. ‘Uti nelpon Pakdhe ya..’ ujar beliau berulang-ulang, supaya Davin dan Ibil tidak berebut telepon lagi.
Setelah cukup istirahat, akhirnya rombongan pulang ke boyolali. berangkat dari Zoom sekitar jam 14.00 an. Sebelumnya aku harus menjelaskan kepada anak-anak, bahwa mereka akan pulang ke Boyolali duluan bersama Ibu, Uti dan Kakung. Sementara Bapak mau bekerja dulu dan besok Bapak pulang ke Boyolali. Ibil dijelaskan dua kali baru bilang ‘he-eh’. sementara Davin tidak mau menjawab tapi malah terus ngajak bermain. Setelah takpaksa duduk pangku dan dijelaskan dua-tiga kali, baru davin mau menjawab Iya. Dan mereka mau masuk ke dalam taksi. Aku senang, anak-anak bisa berlaku ‘konsisten’ dalam skala mereka. Sebelum mengiyakan penjelasanku, baik Davin maupun Ibil tidak mau masuk taksi dan memintaku untuk ikut pulang. Tapi setelah mengiyakan, mereka tidak merengek memintaku untuk ikut, tapi cuma melambaikan tangan tanpa senyum dan ucapan ‘da..da…’.
Filed under: curhat
Ditulis pada 21 Juli 2008, jam 20.30
Tadi siang adikku, Hikmah, berangkat kembali ke Kalbar bersama suaminya, Yono. Mereka baru menikah tanggal 22 Juni 2008 kemarin. Hikmah kembali sebagai perawat desa yang mesti keliling di daerah pelosok Kalbar dan Yono kembali bertugas sebagai polisi.
Selamat jalan aja deh, buat kalian. Semoga senantiasa mendapat limpahan nikmat, hidayah dan barokah dari Allah SWT. Semoga kalian bisa membina kehidupan rumah tangga yang baik dan sehat, menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. Dapat membina keluarga yang sukses di dunia dan akhirat. Amien…
Ditulis pada 21 Juli 2008, jam 13.00
Davin..,Ibil… hari ini, menit-menit ini… dua tahun yang lalu. Aku, Bapakmu, meneteskan air mata dengan perasaan yang tidak pernah Bapak alami sebelumnya. Bapak bahkan tidak kuat berdiri tegak saat melihat satu per satu kalian dikeluarkan dari rahim Ibu kalian.
Detik itu, kita lengkap sebagai keluarga. Aku,Bapakmu, Ibumu dan kalian berdua sebagai anak-anak kami. Davin,kamu sebagai anak lelaki, dan posturmu yang lebih besar dari Ibil, kami tetapkan sebagai yang tertua. Juga kamulah yang pertama kali diambil oleh dokter yang melakukan operasi. Kamu sebagai anak lelaki tertua, mewarisi semua tanggung jawab Bapakmu. Sebagai pelindung dan penjaga keluarga. Sebagai penjaga kehormatan dan ketentraman keluarga. Ibil, kamu sebagai anak wanita, mewarisi semua tanggung jawab Ibumu. Menjaga keharmonisan keluarga, menjaga keseimbangan dan keharmonisan kehidupan. Menjadi penopang bagi setiap anggota keluarga.
Ah… rasanya kok berat sekali tanggung jawab kalian. Tapi kami, orang tua kalian, bangga dan sangat bahagia dengan kalian apa adanya. Kami hanya berdoa dan berharap, semoga kalian menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah, menjadi anak-anak yang ‘manut & ngerti’ tentang kondisi keluarga, menjadi individu-individu yang punya prinsip, simpati dan empati terhadap hidup dan kehidupan di dunia ini. Semoga kalian dapat menjadi anak-anak yang menjadi kebanggaan orang tua. Orang-orang yang berguna bagi agama, orang-orang yang teguh memegang akidah yang lurus, berani, mau dan mampu menjaga kehormatan dan kesucian akidah. Semoga kalian menjadi orang-orang yang berguna bagi bangsa dan negara. Menjadi orang-orang yang peduli untuk membuat bumi ini menjadi tempat yang lebih nyaman sebagai tempat dan rumah tinggal. Dan segudang harapan dan doa baik kami bagi kalian. Amien…
Orang tua memang selalu punya harapan yang besar akan anak-anaknya. Kami tidak ingin kalian terbebani. Kami inginkan yang terbaik untuk kalian, sebagai ungkapan syukur kehadirat Allah SWT atas amanah terbesar Nya, kalian, anak-anak kami. Kami akan dengan sukarela bekerja keras, untuk bisa memberikan yang terbaik bagi kalian. Dan yang terbaik yang telah Allah berikan kepada kita, marilah kita mensyukuri dan menjaganya. Kalian, pada saatnya nanti, pasti akan mengerti arti semua ini.
Kami tidak pernah berhenti berusaha dan berdoa untuk bisa memberikan yang terbaik bagi kalian. Semoga kalian dapat menjadi individu-individu yang terbaik seperti yang kami harapkan. Amien…
Ya…Allah, hanya puja dan puji syukur Alhamdulillah yang bisa kami panjatkan…
Filed under: curhat
Kemarin aku dapat kiriman kartu kredit BRI-Mastercard. ceritanya, beberapa minggu yang lalu, Hajar Sasongko, seorang teman STMP dulu, yang sekarang kerja di BRI Kudus, menawarkan untuk apply KK BRI-Mastercard. ajakannya malah agak sedikit ‘mekso’. akhirnya aku setuju saja, dikasih form, tapi lama cuma ngglethak, enggak aku isi. Berkali-kali saat dia pulang ke Semarang dan mampir ke bengkel pasti ditanyakan. Aku jawab, wah lali, sesuk wis, dll.
Akhirnya aku isi, agak kurang hati-hati. Akibatnya pas tanda tangan nglewati batas. Pas Hajar ngambil form aplikasinya, terpaksa harus tulis ulang di blangko kosong lagi dan aku harus tanda tangan yang bener. beberapa waktu berlalu, aku cuek aja. enggak menanyakan prosesnya. akhirnya sekitar 2 minggu yang lalu ada orang BRi pusat yang telepon, minta difakskan KTP. Aku bilang mending diimel saja, biar hasilnya tetep bagus. akhirnya setuju aku imel. trus seminggu kemarin ada yang konfirmasi lagi, tentang alamat kirim dan tipe kartu. waktu itu dipilihkan tipe gold oleh Mas Hajar. akhirnya, ya.. kemarin itu kartu diantar oleh Nunung, sepupu putra Budhe Wiwik. Aku memang numpang alamat KTP disitu. tapi ternyata kartu yang dikirim tipe reguler. mungkin aku enggak cukup meyakinkan untuk dapat kartu gold seperti yang diajukan.
Tapi anggap saja sisi positifnya, ini sudah kemajuan, aplikasi kartu kreditku disetujui. Dulu pernah beberapa kali ditawari untuk mengajukan aplikasi KK, oleh beberapa bank. akhirnya pas giliran bank Mega (kalo tidak salah inget sih..) aku setuju untuk apply. dijanjikan dua minggu. eh.. ditunggu lebih dari 2 bulan tidak ada kabar beritanya. Padahal bukan aku yang datang ke mereka untuk apply, aku yang berkali-kali ditelepon untuk mengajukan aplikasi. mbok ya’o… kalo memang aku dianggap tidak layak dapat KK-nya, ya aku dikabari kepastiannya.
Filed under: curhat
Sore hingga jam 8 malam tadi aku merasakan sakit kepala yang sangat menyiksa. Ini semua bermula dari kemarin. Siang kemarin, sepulang dari Dinkes Propinsi, aku kehujanan. tanpa jas hujan, semua basah. Sampai di bengkel langsung ganti baju. Hujan tetap berlanjut sampai malam.
Jam 20 WIB, waktu jemput Istri, aku lupa bawa HP. Jadi saat sampai di Jl. Simpang aku tidak bisa ngasih tau Istri. Aku nunggu agak lama, grimis. Karena Istri tidak tau, jadi nunggunya agak lama. Akhirnya Istri datang, agak marah karena harus nunggu lama & aku tidak bisa ngasih kabar. Akhirnya karena suasana yang enggak enak, jadi lupa laper & enggak makan malam. Mampir sebentar ke bengkel. Cek imel dan lain-lain, lalu pulang. Sampe di rumah males makan, cuma nonton TV nemenin Mbah Wahyo. Istri malah sakit duluan, pusing banget katanya.
Tadi pagi, karena Istri masih pusing, maka enggak masak. Sarapan beli di deretan warung Gergaji, dibungkus. Sampe di bengkel, pas bungkusan dibuka, bandeng masaknya agak bau aneh, rasanya juga, jadi makan cuma dengan nasi putih yang tidak kena kuah + oseng-oseng sawi.
Siang, habis Jum’atan pulang ke Wonodri, maem, lalu langsung ke McD Java, belajar setting NewPos buat McKios. Sementara Istri takminta berangkat sendiri pake motor. Ruang Kios baru dengan AC baru & sedang testing, jadi suhunya cukup dingin. Pusing sudah mulai terasa sejak jam 15 WIB. Asyik ngobrol dengan Teknisi Solusindo, Wahyudi, juga karena acara belum selesai jadi baru bisa pulang jam 18 WIB. Wahyudi barusan punya putra, 2 bulan, jadi rame ngobrol sebagai sesama Bapak baru.
Jam 18.00 ke bengkel lagi, pusingnya sudah tidak tertahankan. Kebetulan datang 2 orang Turki minta setting notebook. Terpaksa mereka taktinggal, aku minta Adhit buat ngerjain, sementara aku muntah-muntah di kamar mandi. Setelah itu perut & punggung aku gosok pake minyak Kapak. Setelah Shalat Maghrib, coba buat makan, tapi kepala terasa sangat pusing. Akhirnya aku pilih barin, tiduran. Saking pusingnya, aku tidak bisa membuka mata. Kalo melek, rasanya kepala seperti mau pecah.
Jam 19.45 Istri datang, diambilin obat flu, minum air putih banyak-banyak. Istri tak suruh pulang ke Boyolali. Kasihan Ibu, kalo Istri tidak pulang Boyolai, maka Beliau tidak bisa ngaji ke Mesjid besok pagi. Setelah Istri pulang, nyoba makan lagi. Belum habis, terdengar suara bakso Pak Gendut, Alhamdulillah… aku memang butuh sesuatu yang panas untuk ngusir pusing. Setelah makan bakso panas & cukup pedas + minum air putih banyak, Alhamdulillah pusingku berkurang banyak. Akhirnya aku bisa cek mail lagi..
Memang setelah aku pernah kena radang empedu beberapa tahun yang lalu, staminaku jadi sangat merosot. Telat maem saja bisa bikin perut kembung & sakit kepala yang sangat menyiksa. Namun anehnya, saat kumpul dengan anak-anak, telat maem sampe berjam-jam, beberapa hari berturut-turut juga ok-ok saja. Mungkin memang semua beawal dari hati..
Syukur Alhamdulillah ya Allah, Engkau berikan anak-anak yang luar biasa buat kami.. Syukur juga aku diingatkan dengan sakitku tadi, supaya aku tidak sombong, supaya ingat menjaga semua karunia-Mu…